Peranan Koperasi di Berbagai Negara
Dibandingkan dengan tipe organisasi lain, pembentukan
organisasi koperasi yang mandiri dan otonom dapat diterima di berbagai Negara
dengan alasan-alasan sebagai berikut.
1.
Organisasi koperasi relative terbuka dan demokratis,
mempunyai perusahaan yang dimiliki bersama dan dapat mewujudkan
keuntungan-keuntungan yang bersifat social/ekonomis dari kerja sama bermanfaat
bagi para anggotanya
2.
Melalui pembentukan perusahaan yang dimiliki
secara bersama, para anggota memperoleh peningkatan pelayanan dengan pengadaan
secara langsung barang dan jasa yang dibutuhkan atas dasar persyaratan yang
lebih baik dibandingkan dengan yang didapat dari pasar umum atau disediakan
Negara
3.
Struktur dasar tipe organisasi koperasi yang
bersifat social ekonomis cukup fleksibel untuk diterapkan pada berbagai kondisi
social ekonomis tertentu
4.
Para anggota yang termasuk golongan penduduk
yang social ekonominya “lemah”, dapat memanfaatkan sarana swadaya yang terdapat
pada organisasi koperasi untuk memperbaiki situasi ekonomi/sosialnya, dan untuk
mengintegrasikan dirinya dalam proses pembangunan social ekonomis
Usul-usul mengenai peranan
koperasi dalam pembangunan ekonomi social Negara-negara yang sedang berkembang,
Konferensi Umum International Labour Organization dan International Labour
Office, melalui Rekomendasi 127 yang disahkan pada tanggal 1 Juni 1966
menyatakan dengan tegas, bahwa :
1. Salah
satu alat yang penting bagi pembangunan ekonomi, social, dan budayadan Negara
berkembang
2. Secara
khusus, koperasi harus didirikan dan dikembangkan sebagai sarana berikut :
a.
Memperbaiki situasi ekonomi, social dan budaya
b.
Meningkatkan sumber daya modal pribadi dan
nasional seperti simpanan dll
c.
Memberi kontribusi kepada perekonomian melalui
pengawasan yang secara adil
d.
Meningkatkan pendapatan nasional untuk
penciptaan lapangan pekerjaan
e.
Memperbaiki kondisi social dan menunjang
pelayanan social di bidang-bidang perumahan, kesehatan, pendidikan, komunikasi
f.
Membantu meningkatkan pengetahuan umum dan
teknik dari para anggotanya
3. Pemerintah-pemerintah,
Negara-negara sedang berkembang agar merumuskan dan melaksanakan suatu
kebijakan yang memungkinkan koperasi memperoleh bantuan
4. a.
menerapkan kebijakan semacam perlu pertimbangan kondisi ekonomi dan social
sumber daya
b. kebijakan itu
perlu diintegrasikan ke dalam rencana pembangunan
5.
kebijakan itu perlu selalu ditinjau dan disesuaikan dengan
perubahan-perubahan kebutuhan ekonomi
dan social dengan kemajuan teknologi
6. gerakan koperasi perlu dilibatkan dalam
perumusan dan jika mungkin dalam pelaksanaan pembagunan social/ekonomi
7.
gerakan koperasi perlu dilibatkan dalam perumusan dan dalam kebijakan
sebagai berikut :
a.
pemerintah yang bersangkutan sebaiknya melibatkan koperasi atas dasar yang sama
seperti organisasi-organisasi yang lain dalam perumusan rencana ekonomi
nasional
b. pasal 7 dan pasal 9, ayat (1)
dari rekomendasi ini
Dampak Koperasi
Terhadap Proses Pembangunan Sosial Ekonomi
Dampak
terhadap pembangunan yang ditimbulkan oleh semua koperasi yang beroperasi dalam
suatu sector tertentu.
Dampak mikro dari suatu koperasi
1. yang
bersifat langsung terhadap para anggota dan perekonomiannya
a.
metode-metode produktif yang inovatif
b.
melakukan diversifikasi/ spesialisasi dalam
proses produksinya
2. yang
bersifat tidak langsung terhadap lingkungan organisasi kopersi
Daampak Makro dari Organisasi
Koperasi
Berbagai
dampak yang bersifat mikro membentuk dampak-dampak yang bersifat makro yang
berkaitan dengan pembangunan.
Aspek-aspek Pokok
Koperasi dan Sistem Ekonomi
Teori ekonomi membedakan 3 sistem ekonomi yang
berbeda-beda.
a. System
perekonomian swasta/ kapitalis misalnya AS, jepang dll
b. System
perekonomian (sosialis) yang direncakan dari pusat misalnya Republik Demokrasi
Jerman dan Uni Sovyet
c. System
perekonomian pasar sosialis dengan pemilikan masyarakat (Yugoslavia)/ pemilik
Negara (Hongaria)
Organisasi Koperasi
Sebagai Sarana Kebijakan Pembangunan Nasional
Dilihat dari segi pandangan
pemerintah yang mendukung pengembangan organisasi koperasi hal tersebut tidak
dianggap sebagai sasaran akhir dalam arti tujuan.
1. Koperasi
sebagai sarana pemerintah, dimana pemerintah mengawasi organisasi secara
langsung
2. Koperasi
mempertimbangkan pemerintah sebagai alat swadaya para anggotanya secara tidak
langsung agar menunjang kepentingan para anggotanya yg berkaitan dengan
pembangunan
3. Koperasi
diawasi oleh Negara, dimana pengaruh administrasi pemerintah secara langsung
terhadap penetapan tujuan dan pengambilan keputusan usaha pada
organisasi-organisasi koperasi sering diterapkan.
Konsepsi Pengembangan
Organisasi Koperasi
Suatu konsepsi pemerintah yang konsisten dan
bersifat umum mengenai usaha yang mendorong secara tidak langsung pertumbuhan
secara bertahap dan pengembangan sendiri dari organisasi-organisasi koperasi
terdiri atas :
1. Peraturan-peraturan
resmi dan ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang memadai bagi organisasi
swadaya koperasi dan gerakan koperasi
2. Fasilitas-fasilitas
berupa informasi, pendidikan dan latihan bagi (calon) anggota, pengurus dll
3. Fasilitas
menyangkut pelayanan auditing dan konsultasi maupun bantuan manajemen
4. Perlakuan
yang sama/ yang bersifat preferensi, jika organisasi-organisasi pemerintah/
semi pemerintah membeli/ memasarkan barang dan jasa
5. Keringanan
pembebasan pajak
6. Bantuan-bantuan
keuangan dalam bentuk kredit, subsidi, dan donasi untuk kasus-kasus tertentu
7. Peraturan-peraturan
antitrust dan ketentuan-ketentuan yang mencegah perusahaan-perusahaan Negara
& swasta
8. Struktur-struktur
lembaga-lembaga pengembangan swadaya yang melaksanakan secara efisien
tugas-tugas yang mendukung dan melindungi pembentukan organisasi-organisasi
swadaya.
Pertikaian Konsepsi
Mereka yang bertanggung jawab
atas perencanaan dan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan di Negara yang
sedang berkembang menghadapi tugas yang sulit untuk menciptakan keserasian
anatara dua tujuan yang satu sama lain bertentangan :
-
Di satu pihak, proyek-proyek pembangunan harus
dapat mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang cepat
-
Dilain pihak, proyek-proyek tersebut diharapkan
dapat memberikan dampak positif terhadap pola pengembangan suatu struktur
social yang lebih baik.
Sebab-sebab Kegagalan
Organisasi Koperasi
Hasil-hasil
yang relative kecil dari proyek-proyek pengembangan koperasi, yang direncakan
dan dilaksanakan dengan bantuan teknik international dan bilateral di masa yang
lampau.
Jenis koperasi yg biasanya tidak
memberikan keuntungan yang dapat diharapkan dari usaha pengembangan koperasi
“koperasi-koperasi kesejahteraan”
tersebut menimbulkan berbagai masalah :
-
Menimbulkan beban yang berat bagi pemerintah
-
Tidak dikelola sebagaimana layaknya suatu
organisasi ekonomi, tetapi lebih menyerupai suatu lembaga administrasi
-
Menampung semua orang yang membutuhkan bantuan
tanpa memperhatikan keinginan dan kemampuan mereka untuk bekerja sama demi
suatu tujuan yang sama
-
Tidak mengubah dirinya menjadi
organisasi-organisasi swadaya sebagaimana diharapkan
Sarana dan Cara
Menggunakan Bantuan Pemerintah Secara Efektif
Koperasi adalah organisasi yang
didirikan atas dasar prinsip menolong diri sendri (swadaya)
Pengurangan Bertahap Pengaruh Pemerintah terhadap Koperasi yang
Disponsori Pemerintah
Pembentukan
organisasi-organisasi koperasi harus dilaksanakan sebagai bagian dari kebijakan
pembangunan secara menyeluruh, sementara kondisi ekonomi dan social yang ada
tidak memungkinkan perkembangan organisasi swadaya dari bawah.
Tahap I. Ofisialisasi
Mendukung
perintisan organisasi koperasi,.
Diharapkan bahwa hal ini dapat
ditingkatkan dalam jangka panjang oleh organisasi koperasi yang otonom.
Membangkitkan motivasi dan keikutsertaan sehingga partisispasi aktif para
anggota dalam perkembangan organisasi koperasi dapat dirancang dalam suatu
“proses perkembangan dari bawah”
Tahap II. Deofisialisasi
Melepaskan
koperasi dari ketergantungan pada sponsor dan pengawasan teknis, manajerial,
dan keuangan secara langsung dari organisasi-organisasi pemerintah dan yang
dikendalikan oleh Negara.
Tahap III Otonom
Perkembangan
koperasi selanjutnya adalah sebagai organisasi mandiri yang otonom. Setelah
mencapai tahap-tahap swadaya dan otonom dengan berhasil, koperasi-koperasi yang
semula disponsori Negara dapat meneruskan perkembangannya sebagai organisasi
koperasi sekunder dan tersier.
PERANAN ORGANISASI
KOPERASI DALAM GLOBALISASI
Proses globalisasi sangat
didorong oleh perkembangan perusahaan yang bersifat multinasional/
transnasional, yaitu perusahaan yang mempunyai kegiatan produksi dan pemasaran
di berbagai Negara.
Pada tahun 1994, di Bogor dalam
sidang Asian Pacific Economic Cooperation
(APEC) telah dicetuskan Deklarasi Bogor, menyatakan bahwa perdagangan dan
investasi Negara anggotanya akan sepenuhnya dideregulasikan pada tahun 2020 General Agreement on Tariff and Trade
(GATT).
Peranan Pemerintah
Mengefektifkan Potensi Organisai Koperasi
Masyarakat
pengusaha, para cendekiawa, dan Pemerintah kita telah memahami kondisi bisnis
yang sekarang dihadapi dan bagaimana mengatisipasi perkembangan kekuatan-kekuatan
ekonomi dalan era globalisasi.
Strategi Pendanaan dan
Bantuan Teknis bagi Organisasi Koperasi
Arah
kebijakan pengembangan yang khusus memfokuskan pada penyediaan dana memerlukan
strategi sebagai berikut :
1. Memadukan
dan memperkuat tiga aspek yaitu bantuan keuangan, bantuan teknis, dan program
penjaminan
2. Mengoptimalkan
penunjukan bank & lembaga keuangan untuk organisasi koperasi
3. Mengoptimalkan
realisasi busseniss plan perbankan dalam pemberian kredit
4. Bantuan
teknis yang efektif bekerja sama dengan asosiasi, konsultan swasta, perguruan
tinggi dan lembaga terkait
5. Meningkatkan
lembaga penjamin kredit yang ada.
Gerakan Koperasi dan
Pembangunan Pertanian
Gerakan
organisasi merupakan salah satu yang terbesar dan tertua didunia adalah International Cooperative Alliance (ICA)
organisasi puncak gerakan koperasi international.
Alasan dibentuknya organisasi
koperasi untuk mengatasi masalah-masalah sebagai berikut :
1. Para
petani pada umumnya merupakan usaha kecil dibandingkan dengan rekan dagangnya, sehingga
posisi tawar menawarnya lemah
2. Sector
pertanian secara geografis tersebar ke daerah dipedalaman
3. Kualitas
pendidikan para petani relative rendah, sehingga sulit untuk meningkatkan
kegiatan usahanya.
Kebijakan Pembangunan
Organisasi Koperasi di Indonesia
Selama era
pembangunan jangka panjang tahap pertama (PJP I), pembangunan koperasi di
Indonesia menunjukan hasil yang cukup memuaskan.
Berdasarkan
pengalaman tersebut maka pemerintah membuat kebijakan peembangunan dalam pelita
VI sebagai berikut.
1.
Pembangunan koperasi sebagai wadah kegiatan
ekonomi rakyat yang diarahnya untuk memiliki kemampuan menjadi badan usaha yang
efisien dan gerakan ekonomi rakyat yang tangguh dan berakar dalam masyarakat.
2.
Pelaksanaan fungsi dan peranan koperasi
ditingkatkan melalui upaya peningkatan semangat kebersamaan dan amanajemen yang
lebih professional melalui penyuluhan, pendidikan, pelatihan
3.
Peningkatan organisasi koperasi didukung melalui
pemberian kesempatan usaha seluas-luasnya di berbagai sector kegiatan ekonomi
4.
Kerja sama antar organisasi koperasi dengan
usaha Negara & swasta sebagai mitra usaha dikembangkan secara nyata untuk
mewujudkan kehidupan perekonomian ekonomi saling mendukung dan menguntungkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar